dunia possibilitas

“tah, dokter nu kitu tah. buat si ayuk,” celetuk nenek.

saya nyengir. di layar tv Darius Sinathrya sedang berjalan di lorong rumah sakit dengan jas putihnya. ganteng. menawan. karismatik. ceritanya sedang berperan sebagai dokter kandungan ganteng yang digilai remaja.

mentang-mentang si ayuk—kakak saya- calon dokter ya? gara-gara ngeliat saya yang nyari anak elektro lagi apa gimana nih si nenek.


koreksi

beberapa menit sebelum acc untuk pengumpulan laporan KP di kantor, adik saya, si akmal, menunjukkan lembar abstrak yang dipegangnya dari tadi.

“teh, ini abstraknya ada yang salah. paragraf pertama font-nya times new roman, paragraf ke-dua cambria,” katanya.

saya kaget, “masa’? “

“ini, liat aja huruf A-nya,”

“yaudah diem-diem aja lah, nggak keliatan bedanya,” bisik saya.

bos saya berhenti membuka halaman laporan dan melirik saya. “sekarang tanggal dua kan ya?”

saya dengan sopan dan manis mengangguk. adik saya tidak bergeming memperhatikan.

bos saya pun menulis tanggal dan membubuhkan tanda tangannya pada laporan saya.

di jalan keluar gedung adik saya pelan berkata, “teteh hari ini tanggal 3 bukan sih?”

monyeng.


moikhsan:

this guy knows his physics. 

merasa labil?

sebenernya kalo kita bisa ngerti di mana titik pusat massa diri kita, dalam keadaan selabil apapun things will eventually get stabilized.

so stop whining and hold yourself together.


jantung saya berdebar melihat gambar ini. rasanya anak saya akan segera keluar dari sana dan menarik saya masuk.
“bun, malem ini kakak yang masak buat ibun,” katanya sambil mengaduk sup imajiner di atas tumpukan buku yang saya duga berasosiasi dengan kompor, “si ayah jangan dibangunin, suka rakus ayah mah makannya.”
hahahahahahaha.

jantung saya berdebar melihat gambar ini. rasanya anak saya akan segera keluar dari sana dan menarik saya masuk.

“bun, malem ini kakak yang masak buat ibun,” katanya sambil mengaduk sup imajiner di atas tumpukan buku yang saya duga berasosiasi dengan kompor, “si ayah jangan dibangunin, suka rakus ayah mah makannya.”

hahahahahahaha.


selamat jalan pak guru..

selamat jalan Pak Hasim Subarna. terima kasih banyak Pak. terima kasih karena telah memperkenalkan hal-hal yang sebelumnya begitu asing buat saya: solder, timah, resistor, kapasitor, PCB, cairan ferroklorida untuk membuat PCB, dan dasar-dasar rangkaian listrik lainnya. bahkan bapak juga yang pertama kali mengajari saya ngoding, yang paling dasar, lewat microsoft excel yang if-cause-nya panjaaaaaaang sekali.

berputar lagi di kepala saya gimana frustrasinya waktu rangkaian saya nggak jalan saat ujian praktik, saat cairan ferroklorida tumpah ke lantai dan bapak cuma tertawa saat mendengarnya, saat kodingan di excel nggak selesai-selesai karena cuma si freak dito yang bisa nyelesain semuanya dalam dua jam pelajaran..

entah gimana kalau nggak diajar bapak, saya mungkin nggak akan berani masuk elektro karena nggak tahu apa-apa.

selamat jalan Pak Hasim, maafkan saya dan kenkawan dulu sering bercanda-canda dalam menyebut nama Bapak, maafkan karena kelakuan kanak kami dulu Pak, sungguh Bapak adalah orang yang sabar dan selalu tersenyum jika kami mulai nakal dan tidak terkendali. semoga Bapak diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, selamat jalan pak guru, Hasim Subarna (22 Feb 1971 - 5 Nov 2011)