menjadi orang besar
sekarang saya kesal kalau lihat orang bersepeda di kampus. tidak ada alasan filosofis, hanya saja saya baru kehilangan sepeda hari senin lalu.
hati saya mencelos. itu ya kata-nya. mencelos. saat saya lihat besi tempat sepeda saya dikunci polos melompong, tidak ada tanda-tanda dari si maverick abu-abu milik saya.
lalu setelah mencelos saya menjeri. aaaaa. lemas rasanya kaki. saya melangkah ogah-ogahan menuju kelas saya di gedung SBM. sudah telat dan tidak peduli. saya buka hp saya, kirim pesan singkat ke korea:
“kang
sepedaku ilang”
kepala saya yang memang dari pagi sudah berdenyut denyut tidak karuan sekarang makin menjadi-jadi. di dalam kelas saya tidak fokus. di luar hujan deras. untung umi tidak marah (mungkin sih. soalnya habis saya beri berita duka tidak sampai nelepon, hanya kirim pesan saja).
dosen saya bicara soal teknik pitching, presentasi inovator buat calon investor. ke mana-mana bicaranya, sampai tantowi yahya dibawa-bawa. saya malah melamun. pitching. anggukan.
mengangguk. menerima. sepeda hilang harus diterima saja. hyah ke sana lagi.
saat pulang selama di jalan saya terus merenung ini kenapa saya dikasih begini. padahal digembok sudah. ikhtiarnya sudah istilahnya mah.
lalu saya tiba-tiba teringat cerita orang-orang besar. yang seringkali hidupnya dulu susah. miskin. tidak mapan. yang sudah mapan malah kabur keluar istana, ini saya bicara tentang sidharta gautama.
dulu saya sempat khawatir ketika saya mendapati hidup saya nyaman. karena saya takut saya jadi nggak bisa ngapa-ngapain. ga bisa jadi orang besar. akhirnya saya masuk aksel supaya nggak nyaman. saya ambil ekskul yang banyak dan hardcore (istilah apa ya ini) macem pecinta alam dan rohis. saya jadi MPK juga. semua dalam waktu yang sama.
masuk SMA saya kapok masuk aksel. kelelahan. tapi saya tetap ga mau merasa nyaman. akhirnya saya masuk dunia yang tidak terbayangkan sebelumnya: musik klasik. saya yang tadinya buta not balok dipaksa jadi aranger. super tidak nyaman. stres berminggu-minggu.
sampai ketika saya kuliah. masih merasa nyaman-nyaman saja. sekali waktu sepatu saya tertukar sebelah. saya ulangi lagi: tertukar sebelah. jadi yang kiri ukurannya 6, yang kanan 7. untung aslinya kaki saya berukuran 6, jadi pakai yang 7 tidak merasa terganggu. saya awalnya sedih karena si 6 kehilangan partnernya, bertemu si 7 yang entah milik kaki siapa. tapi akhirnya mereka toh bisa berjalan bersama-sama. hanya memang kaki saya yang tidak nyaman. saya nikmati saja. menikmati proses saya menjadi orang besar.
jadi yasudah kenapa saat tidak nyaman kita malah protes? syukuri. saat bikin proyek tapi rangkaiannya gagal terus kenapa protes? saat sepeda hilang kita harus mengangkot kenapa protes? toh itu proses. menjadi orang besar.