dari dulu saya suka sastra. pertama kali saya suka puisi-puisi sapardi djoko damono; semuanya gara-gara kakak saya dulu pernah beli kumpulan cerpen Hujan Bulan Juni (Grasindo: 2003). masa SMP saya memang sangat dipengaruhi kakak saya. saya suka cerpen juga gara-gara dia beli kumpulan cerpen Bibir dalam Pispot (Hamsad Rangkuti, Penerbit Kompas: 2003). di buku itu hamsad bercerita panjang lebar tentang proses kreatifnya. saya benar-benar tercengang dengan jalan cerita yang beliau tuturkan. luar biasa. hal kecil sekali, namun diceritakan begitu luwesnya hingga kita berpikir, bagaimana mungkin selama kita hidup di dunia, kita melewatkannya? inilah “lebay” yang diungkapkan dengan sangat indah dan artistik.
novel pertama yang saya baca juga akibat kakak saya. dalam rangka memenuhi tugas sekolahnya merangkum karya sastra, dia beli lah itu: Saman (Ayu Utami, KPG: 1998). pertama baca itu merinding karena vulgarnya. maklum masih ucrit. tapi guru bahasa indonesia kakak saya bilang, tidak masalah kalau yang kita terima itu vulgar. sekarang masalah kita menyerap dan menyampaikan informasinya, mampukah kita menyampaikan kevulgaran dalam bahasa yang indah dan sesuai? ngeri kan. dan seakan-akan melengkapinya, beberapa waktu berikutnya kakak saya membeli buku sekuelnya: Larung (KPG: 2002).
untuk saya sendiri, selesai dengan Paman Gober, Lupus-nya Hilman, dan Vanya yang juga oleh Hilman, saya beranjak ke novel dengan Harimau! Harimau! (Mochtar Loebis, Yayasan Obor Indonesia: 1999). novel ini kecil dan tipis, anak manapun akan tertarik membacanya (waktu itu. hahaha. sekarang masa iya?). dari sana saya mengenal thrill yang berasal dari perasaan. kejutan, kedaerahan, dan kemanusiaan. novel yang sama efeknya untuk saya berikutnya adalah Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan, Penerbit Jendela dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta: 2002). wah di sini vulgarnya kayak apa banyaknya. kacau. tapi, saya sudah kebal. hahaha. parah.
dari sejak itu saya belum menemukan lagi sastra yang membuat saya bergairah, yang menarik saya masuk ke dalam dunianya dan menemukan rumah.
sampai saya bertemu orang ini.
saat itu saya kelas satu SMA, ikut kegiatan semacam latihan kepemimpinan dan sedang lelah dibentak-bentak. saya digiring masuk bersama teman-teman ke dalam ruangan kelas berlangit-langit tinggi dengan seorang pemateri duduk di kursi guru.
orangnya kurus, kecil. rambutnya keras. dia pakai kaos warna hijau army dan jeans belel.
kalimat pertamanya begini:
“hari ini saya harusnya bawain materi problem solving. tapi saya akan memberi yang lebih berharga dari itu.”
saya pikir, apa pula ini orang, jadi susah kan bikin tugas resume-nya. bikin ribet aja.
tapi saya terpaku pada satu kalimat dari orang ini. kalau tidak salah saat itu sedang bicara majalah playboy dan pornografi. dia bicara masalah keadilan. adil dalam menilai. lalu dia bilang begini:
“Pram pernah bilang, Adillah sejak dalam pikiran,”
saya langsung penasaran. Pram? siapa Pram? kenapa saya belum pernah dengar nama orang ini sebelumnya?
jadilah saya pulang esoknya mencari-cari ke toko buku. pucuk dicita ulam tiba. gramedia sedang cetak ulang tetralogi buru. saya hajar beli nomor satu, Bumi Manusia. dari sana saya jatuh cinta kepada tulisan-tulisan beliau: Pramoedya Ananta Toer.
dan saya sangat menyadari sejak itu betapa pandangan-pandangan saya tentang hidup jadi sangat berubah. sangat sangat berubah.
nah, sebenarnya orang yang saya sebut tadi hanya memperkenalkan Pram kepada saya. itupun tidak disengaja.
tapi pada akhirnya, ternyata justru tulisan orang tadi yang paling saya suka dari seluruh karya sastra yang pernah saya baca.
apa yang terlihat, tidak seperti apa yang terbayang
angan jatuh di bayangan kabut malam
harapan hilang terbawa dedaunan
sunyi menunggu itu matisajak telah kehilangan kata-kata
lagu telah kehilangan nada-nada
itulah aku kehilangan kamuhasrat memberangus akal sehat
tentangan takdir
lantang menyeru aku takdirmu
aku lelakimusekarang, kutitip di saku hatimu
aku hendak mengambilnya nanti
saat takdir menjadi kawan
saat takdir tak lagi jadi angan-angan20 maret 2011
ik
sekarang, orang itu jauh dari saya. beribu-ribu kilometer jauhnya. saya rindu tulisan-tulisannya yang memaku saya. saya rindu kuliahnya. saya rindu diskusi riangnya.
dia, karya Tuhan yang merumahkan saya.
p.s: cepat pulang!
-
yuliantyastri liked this
-
akafajaretta liked this
-
poengo posted this